Keterangan
“Dalam tasawuf Islam, egoisme adalah penyakit hati dan tirai baja yang menghalangi manusia untuk melihat Tuhan. Ego adalah rumah sempit yang harus ditinggalkan bila manusia ingin mendekati dan bergabung dengan Dia.”
Kliping berjudul “Wabah Egoisme” yang ditulis oleh Fikri Yathir (nama samaran Jalaluddin Rakhmat) dalam majalahUMMAT edisi 27 November 1995 ini menyoroti pandangan mendasar mengenai sifat egoisme manusia dari berbagai sudut pandang keilmuan, filsafat, dan agama. Tulisan ini diawali dengan kisah seorang wisatawan Barat di Tokyo yang terheran-heran melihat orang-orang mengabaikan tumpukan uang tak bertuan di dekat loket kereta bawah tanah. Wisatawan tersebut menganggap ketidakpedulian itu abnormal, karena didasari pandangan bahwa egoisme adalahfitrah asli manusia.
Berbagai teori sosial, psikologi, dan ekonomi modern pun kerap membangun paradigma bahwa manusia digerakkan oleh kepentingan diri sendiri (self-interest). Tokoh-tokoh seperti George Santayana, Jeremy Bentham, Francis Edgeworth, hingga Dennis Mueller merumuskan dasar filsafat ekonomi yang menegaskan bahwahomo economicus bertindak semata-mata demi mengejar kesenangan dan keuntungan pribadi.
Bahkan dalam ranah biologi evolusi, para ilmuwan memungut konsep ini untuk menjelaskan motif pertahanan hidup makhluk hidup di alam bebas, yang melahirkan adagiumhomo homini lupus—manusia menjadi serigala bagi manusia lain.
Namun, teori manusia egois ini mulai digugat. Alfie Kohn melalui penelitiannya yang dihimpun dalam bukuThe Brighter Side of Human Nature secara logis dan empiris menolak anggapan tersebut. Kliping ini menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan alami (fitrah) untuk berbuat baik dan bersikaphanif.
Realitas kehidupan juga menunjukkan banyaknya orang yang dengan ikhlas mengorbankan kepentingan dirinya, menyumbangkan harta, hingga hidup sederhana tanpa mau terlibat kolusi.
Dalam psikologi Islam, berbuat baik dinilai jauh lebih alamiah dan menyehatkan secara psikologis daripada berbuat jahat. Fenomena ini serupa dengan apa yang digambarkan oleh Albert Camus dalam novelnya yang terkenal,Wabah (La Peste).
Novel tersebut mengisahkan seorang dokter yang mempertaruhkan keselamatan jiwanya demi menolong korban wabah, bukan demi heroisme atau kesucian, melainkan murni demi nilai kesopanan biasa untuk menjadi manusia seutuhnya (being a man).
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.

