Keterangan
Kliping ini mengulas fenomena munculnya dua sosok “pembaharu” dalam kesusastraan Indonesia pada masanya: Ayu Utami dan Sutardji Calzoum Bachri. Kehadiran Ayu Utami melalui novel Saman memicu kegemparan positif.
Tokoh sastra seperti Sapardi Djoko Damono dan YB Mangunwijaya memberikan apresiasi tinggi, bahkan Romo Mangun mengaku ingin “belajar kembali bahasa Indonesia yang bagus” dari novel tersebut. Saman dinilai membawa kesegaran melalui kekayaan kosakata baru, observasi yang mendalam, serta keberanian mengangkat konflik kejiwaan dan seksualitas yang dipadukan dengan dinamika kehidupan aktivis.
Di sisi lain, artikel menyoroti kembalinya Sutardji Calzoum Bachri lewat penghargaan Hadiah Sastra Chairil Anwar 1998. Sutardji, yang dikenal dengan kredo puisi mantera sejak era 1970-an, menunjukkan evolusi spiritual dalam karya-karyanya.
Jika dulu ia dikenal sebagai sosok yang pemberontak dan dekat dengan gaya hidup bebas, puisi-puisinya kini—seperti “KAU” dan “JADI”—memancarkan napas religiusitas yang matang, rendah hati, dan sufistik. Tipografi puisinya yang unik tetap dipertahankan sebagai identitas visual yang kuat, namun kini lebih difokuskan pada upaya mencapai maqom terdekat dengan Sang Pencipta.
Artikel ini menyimpulkan bahwa baik Ayu maupun Sutardji adalah seniman yang tidak sekadar mengekor pada tradisi yang sudah ada. Mereka melakukan pembaruan bahasa yang revolusioner. Meski demikian, muncul sebuah tantangan bagi Ayu Utami: apakah ia mampu menjaga konsistensi berkaryanya dalam jangka panjang sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Sutardji selama puluhan tahun.
NAMA-NAMA DALAM KLIPING
Sapardi Djoko Damono: Ketua Juri sayembara menulis roman DKJ.
YB Mangunwijaya (Romo Mangun): Sastrawan dan budayawan yang mengapresiasi bahasa dalam novel Saman.
Dr. Faruk: Kritikus sastra yang memberikan komentar mengenai potensi novel Saman.
Lie Charlie: (Melalui kutipan di Kompas 21/4) yang mengulas perpaduan bahasa dan tema dalam karya Ayu Utami.
Sumardi: Seorang pengamat sastra di TIM yang menganalisis dimensi spiritual dan kehadiran Tuhan dalam puisi-puisi Sutardji.
Sutardji Calzoum Bachri: Subjek artikel yang pernyataannya dikutip, termasuk tentang kredo puisi dan sikap religiusitasnya.
Jeihan: Pelukis yang karyanya (puisi tipografi) dibandingkan dengan bentuk puisi Sutardji.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





