Diaspora Orang Jawa Suriname di Pasaman: Rindu Kampung Halaman Sudah Selangit

Rp 15.000,00

Penulis: Harry B. Kori’un, Idrus F. Shahab
Media: TIRAS
Tahun: 1996, No. 32, 5 September 1996
Halaman: A-H
Ukuran: 30 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 19

SKU: KL_9542 Kategori: Label , , ,

Keterangan

Laporan bertajuk “Rindu Kampung Halaman Sudah Selangit” dan “Tongar: Kisah Diaspora Orang Jawa” mengabadikan pasang-surut kehidupan eksodus masyarakat keturunan Jawa dari Suriname yang memilih pulang ke Indonesia pada tahun 1954. Pasca-Perang Dunia II dan seiring pengakuan kemerdekaan Indonesia, gelombang nasionalisme yang kuat melanda buruh perkebunan dan pabrik asal Jawa di Paramaribo serta kota-kota lainnya di Suriname. Didorong oleh kerinduan mendalam pada tanah leluhur, seorang intelektual muda bernama Salikin Mardi Hardjo (S.M. Hardjo) mendirikan Yayasan Tanah Air (YTA) pada 15 Oktober 1951 untuk mengorganisasi kepulangan massal tersebut.

Pada Februari 1954, rombongan pertama yang terdiri dari 1.014 jiwa (sekitar 300 keluarga) bertolak menggunakan KM Langkoeas menuju Pelabuhan Tanjungperak, Surabaya, sebelum akhirnya berlabuh di pelabuhan kecil Sasak, Pasaman, Sumatra Barat. Pemerintah Indonesia menempatkan mereka di Tongar, sebuah wilayah terisolasi yang kala itu masih berupa hutan belantara dan rawa-rawa. Melalui kerja keras antargenerasi, para repatriat menyulap 2.500 hektare lahan hutan menjadi pemukiman modern dan kawasan swasembada pertanian. Dalam waktu singkat (1954–1957), Desa Tongar tumbuh menjadi perkampungan yang maju dan memiliki fasilitas lengkap, seperti ratusan rumah, sekolah, tempat ibadah, poliklinik, infrastruktur jalan, hingga pembangkit listrik diesel yang dibawa langsung dari Suriname.

Namun, kejayaan dan kemandirian Tongar runtuh seketika akibat pergolakan politik nasional. Meletusnya pemberontakan Dewan Banteng/PRRI pada tahun 1958 di Sumatra Barat memutus total urat nadi perekonomian desa. Pasukan pemberontak membakar infrastruktur desa, merampas kendaraan operasional, memutus aliran listrik, dan membatalkan pinjaman modal pusat sebesar Rp 1,5 juta. Kemunduran drastis ini memaksa generasi muda Tongar melakukan eksodus kedua untuk mencari nafkah di kota-kota besar Sumatra dan Jawa, meninggalkan sisa-sisa kejayaan masa lalu yang kini meredup.

NARASUMBER

– Martini: Putri sulung dari S.M. Hardjo yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Air Gadang Timur.

– Sapar (65 tahun): Salah seorang warga pendatang asli Tongar dari generasi awal repatriat Suriname.

– Kasan Mustar alias Pak Darman (68 tahun): Warga Tongar yang mengingat masa-masa pembukaan hutan dan dampak pahit pemberontakan PRRI.

– Yatimin (36 tahun): Warga generasi kedua yang lahir di Tongar, mengeluhkan kondisi ekonomi desa saat ini.

– Suryadi (Didi, 36 tahun): Sarjana IKIP Padang sekaligus Sekretaris Yayasan Tanah Air (YTA) yang mengajar di SKU Simpang Empat.

DAFTAR ISI KLIPING

Halaman A: Rindu Kampung Halaman Sudah SelangitPengantar reportase langsung mengenai pasang-surut nasib ribuan orang Jawa repatriat asal Suriname yang membangun koloni baru di Tongar, Pasaman.

Halaman B–E: Tongar: Kisah Diaspora Orang JawaUlasan mendalam mengenai sejarah gelombang kerinduan tanah air, perjalanan laut berliku menggunakan KM Langkoeas, pembukaan hutan belantara Pasaman menjadi desa mandiri, hingga keruntuhan ekonomi desa akibat imbas pemberontakan PRRI.

Halaman F–G: Awal di SurinameMenyoroti kilas balik sejarah kehidupan generasi tua Jawa saat pertama kali didatangkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai buruh kontrak ke wilayah Suriname sejak tahun 1890.

Halaman G–H: S.M. HardjoProfil singkat dan rekam jejak perjuangan Salikin Mardi Hardjo, tokoh intelektual penggerak repatriasi warga Jawa-Suriname yang mendedikasikan hidupnya demi kemajuan bangsanya hingga akhir hayat.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.