Keterangan
Kini, yang perlu disiapkan adalah meningkatkan kesabaran rakyat, yaitu menjadi kesabaran alim ulama. Kesabaran rakyat biasa itu 300 derajat nilainya, dan kesabaran ulama 600 derajat. Karena itu, kesabaran pemimpin 900 derajat. Tiga kali lipat dari kesabaran rakyat. Inilah yang dimaksud satria pinandita-linuwih.”
“Satria piningit itu maksudnya dipingit melalui pendidikan. Jadi, bukan orang per orang. Tapi, mereka adalah angkatan muda yang baru lepas dari pendidikan… Kalau satria itu punya senjata, senjatanya adalah ilmu pengetahuan.”
Dalam kliping wawancara ini, pakar filsafat Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Damardjati Supadjar, menganalisis kemelut politik nasional melalui kacamata spiritualitas dan pewayangan Jawa. Beliau menjelaskan bahwa kondisi Indonesia kala itu berada dalam babakan menjelang gara-gara. Fase ini ditandai oleh fenomena pendangkalan hidup yang mengubah esensi tuntunan bimbingan hidup menjadi sekadar tontonan semata. Tanda-tanda zaman ini terlihat nyata dari hilangnya kedalaman spiritual (kali ilang kedunge), hilangnya kedaulatan ekonomi akibat arus globalisasi (pasar ilang kumandange), serta runtuhnya moralitas dan rasa malu (wong wadon ilang wirange).
Menghadapi gara-gara ini, Damardjati menegaskan bahwa figur yang dinantikan bukanlah individu mesianik tunggal, melainkan sebuah generasi kolektif baru. Figur Satria Piningit diartikan sebagai angkatan muda yang “dipingit” lewat jalur pendidikan dan dipersenjatai oleh ilmu pengetahuan (iptek). Ketika mereka dipadukan dengan iman dan takwa (imtak), mereka bertransformasi menjadi Satria Pinandita (intelektual yang linuwih). Tugas utama mereka adalah melakukan reorientasi bangsa dan bertindak tegas menumbangkan keserakahan tirani (Batara Kala).
Secara historis, beliau membagi kepemimpinan nasional ke dalam siklus keduniawian Jawa (kama-harta-dharma-moksa). Era Presiden Sukarno dipersonifikasikan sebagai fase kamadhatu (semangat mendobrak), sedangkan era Presiden Soeharto dipersonifikasikan sebagai fase rupadhatu yang fokus pada pertumbuhan materi dan ekonomi (harta). Suksesi berikutnya diproyeksikan akan memasuki periode dharma atau “batu penguji kebenaran”, di mana keadilan sosial sesungguhnya diuji.
Menjelang masa transisi menuju era dharma, Damardjati menekankan pentingnya peningkatan ketahanan moral masyarakat. Ketahanan nasional tidak lagi cukup bersandar pada kesabaran awam, melainkan menuntut standar spiritual setingkat alim ulama. Pada akhirnya, konsep Ratu Adil di masa depan bukanlah sosok manusia, melainkan tegaknya sebuah sistem yang ideal, yang digerakkan oleh sinergi kolektif antara empat pilar bangsa: birokrat, militer, pengusaha, dan kaum cendekiawan.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





