Keterangan
“Rohaniwan jangan ikut main dalam medan Politik Kekuasaan yang sering memang kotor, tapi justru harus intensif dan memberi teladan dalam Politik Moral dan Iman yang berpijak pada kesejahteraan umum.”
“Bukan untuk kepentingan golongan saya atau faksi dia, tapi demi kepentingan dan kesejahteraan semua warga, bahkan universal, semua bangsa, tanpa pandang siapa dan golongan, partai, ras, agama, atau ideologi tertentu.”
Kliping berjudul “Rohaniwan Tak Boleh Berpolitik?” karya Y.B. Mangunwijaya yang dimuat di majalah D&R edisi 7 Desember 1996 ini merupakan sebuah pembelaan intelektual terhadap peran tokoh agama dalam ruang publik. Tulisan ini dipicu oleh kritik terhadap Uskup Belo yang dianggap terlalu jauh mencampuri urusan politik, khususnya terkait persoalan di Timor Timur (sekarang Timor Leste).
Romo Mangun membedah kerancuan pemahaman masyarakat mengenai terminologi “politik” dengan membaginya ke dalam dua paradigma utama:
Politik Kekuasaan (PK): Segala aktivitas yang berkaitan dengan perebutan, penyelenggaraan, dan pemeliharaan kekuasaan (power and might). Bidang ini memang bukan wilayah rohaniwan dan sering dianggap “kotor” karena sarat akan hegemoni pihak yang kuat terhadap yang lemah.
Politik Moral/Iman (PM): Segala upaya demi kepentingan dan kesejahteraan umum (bonum commune), keadilan sosial, dan kemanusiaan universal. Menurut Mangun, wilayah ini adalah panggilan esensial setiap rohaniwan.
Mangun menegaskan bahwa keterlibatan rohaniwan seperti Uskup Belo, Uskup Soegijapranata pada masa revolusi, hingga tokoh dunia seperti Nelson Mandela dan Desmond Tutu, bukanlah dalam rangka mengejar jabatan atau kekuasaan (PK). Sebaliknya, mereka bergerak di jalur PM untuk membela hak asasi manusia dan menyuarakan penderitaan rakyat kecil yang tertindas.
Esai ini juga mengajak pembaca untuk melihat masalah Timor Timur secara objektif dan dengan rasa tepo-seliro (empati). Mangun menyoroti bahwa penderitaan di wilayah konflik tersebut bukan sekadar angka atau komoditas politik, melainkan fakta kemanusiaan yang harus disikapi dengan hati nurani. Baginya, adalah sebuah kewajiban moral bagi seorang rohaniwan untuk berpihak pada kaum underdog (rakyat kecil yang menderita) tanpa harus terjebak dalam kepentingan politik praktis.
CATATAN
Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:
– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co
– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.





