Islam Rahmatan lil Alamin, Abdurrahman Wahid – Amien Rais: Antara Cap dan Hakikat

Rp 35.000,00

Penulis: Imelda Bachtiar
Media: D & R
Tahun: 1996, 7 Desember, No.17, Thn.28
Halaman: 24-30
Ukuran: 6,7 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 15

Keterangan

“Islam itu rahmatan lil alamin. Mari kita buktikan bahwa Islam untuk siapa saja. Jangan memetingkan atribut atau cap, tapi hakikat dan semangat.” — Gus Dur

“Saya tidak menekankan pada label, tapi visinya. Karena, bisa saja sebuah negara tanpa label Islam tapi lebih Islami.” — Amien Rais

Kliping ini mengulas pertemuan bersejarah dan hangat antara dua tokoh besar Islam Indonesia, Gus Dur (Ketua Umum PBNU) dan Amien Rais (Ketua Umum PP Muhammadiyah), di Masjid Sunda Kelapa pada 1 Desember 1996. Dialog yang dipandu oleh Emha Ainun Nadjib ini membedah buku Islam: Demokrasi Atas Bawah karya Ariel Afandi, namun berkembang menjadi diskusi mendalam mengenai masa depan umat dan bangsa.

Meskipun sering dianggap mewakili kutub pemikiran yang berbeda—kultural (Gus Dur) dan struktural (Amien Rais)—pertemuan tersebut justru menunjukkan banyak titik temu. Gus Dur menekankan konsep Islam Rahmatan lil Alamin, di mana Islam harus diperjuangkan sebagai nilai yang mementingkan keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia, termasuk kelompok non-Muslim. Ia mengkhawatirkan tren “kelembagaan” atau institusionalisasi Islam yang berlebihan karena dapat mematikan kreativitas umat.

Di sisi lain, Amien Rais melalui wawancara terpisah menegaskan bahwa esensi dari perjuangan umat bukanlah label atau simbol, melainkan penegakan keadilan. Ia berargumen bahwa negara yang tidak berlabel Islam namun mampu mewujudkan keadilan sosial dan pendidikan yang non-feodalistik justru jauh “lebih Islami”. Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang juga hadir sebagai pembahas, menyimpulkan bahwa kedua tokoh ini memiliki kepedulian (concern) yang sama terhadap keadilan dan sama-sama tidak tahan melihat kesewenang-wenangan penguasa. Pertemuan ini dianggap memberikan dampak psikologis positif bagi ribuan anak muda yang hadir, memberikan kesegaran di tengah ketegangan politik masa itu.

NARASUMBER

Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Ketua Umum PBNU.

Amien Rais: Ketua Umum PP Muhammadiyah (narasumber wawancara utama).

Nurcholish Madjid (Cak Nur): Cendekiawan Muslim/pembahas dalam dialog.

Emha Ainun Nadjib (Cak Nun): Budayawan/pemandu acara.

Yusril Ihza Mahendra: Ahli hukum tata negara (dikutip dalam konteks menanggapi Gus Dur).

Kiai Haji Ilyas Ruchiyat: Rais Am NU (dikutip dalam candaan Gus Dur).

Mohamad Sobary: Pembahas dalam acara.

Rachmat H. Cahyono: Wartawan D&R yang mewawancarai Amien Rais.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.