International Herald Tribune Dituding Hina Soeharto: Itu Jurnalisme Alkohol, Kata Harmoko

Rp 5.000,00

Penulis: Ibrahim G. Zakir
Media: EDITOR
Tahun: 1990, 24 November
Halaman: 28
Ukuran: 0,9 MB

Versi Produksi: Digital/PDF
Kondisi File: Terbaca/Terang
Lokasi Stok: Gudang Warsip

Stok 19

SKU: KL_9464 Kategori: Label , , ,

Keterangan

“Berita itu menghina Kepala Negara. Dan dengan begitu, otomatis, menghina bangsa Indonesia. Mungkin berita itu ia dapat di bar sambil minum-minum, tanpa check and re-check.” Harmoko

Kliping berjudul “Itu Jurnalisme Alkohol, Kata Harmoko” mengulas kemarahan pemerintah Indonesia terhadap harian International Herald Tribune (IHT) edisi 12 November 1990. Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, menuduh IHT telah menghina Kepala Negara RI melalui tulisan wartawan Steven Erlanger yang berjudul “Suharto’s Indonesia: A Family Toll Mahal”. Harmoko menilai bahwa penghinaan terhadap Presiden secara otomatis merupakan penghinaan terhadap bangsa Indonesia.

Artikel yang dipermasalahkan itu menyoroti keterlibatan keluarga Presiden Soeharto dalam bisnis jalan tol, khususnya proyek jalan tol Cawang-Tanjung Priok yang dikelola oleh Siti Hardijanti Rukmana (Tutut). 

Laporan Erlanger menggunakan metafora “Tol Mahal” (plesetan dari Taj Mahal) untuk menggambarkan gurita bisnis keluarga Cendana. Ada dua poin krusial dalam laporan IHT tersebut: pertama, spekulasi bahwa pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden lebih didorong oleh keinginan untuk menjamin kelangsungan bisnis anak-anaknya; kedua, tuduhan bahwa Presiden telah mengkhianati etos revolusi karena tidak mampu memisahkan kepentingan pribadi/keluarga dengan kepentingan negara.

Harmoko menjuluki laporan tersebut sebagai “jurnalisme alkohol”, sebuah istilah sinis yang menyiratkan bahwa berita tersebut dibuat tanpa verifikasi (check and re-check) dan mungkin ditulis sambil mabuk di bar. Sementara itu, Menko Polkam Sudomo juga mengecam tulisan tersebut karena dianggap merugikan nama baik Kepala Negara. Sebagai tindakan tegas, pemerintah melalui Departemen Penerangan menginstruksikan para distributor untuk melakukan black-out (penyensoran) terhadap berita-berita yang mendiskreditkan Presiden.

Di sisi lain, Steven Erlanger membela diri. Melalui sambungan telepon dari Bangkok, ia menyatakan keheranannya atas reaksi keras pemerintah. Erlanger menegaskan bahwa laporannya adalah hasil peliputan selama tiga minggu di Indonesia dan didasarkan pada wawancara dengan berbagai sumber, termasuk pejabat tinggi, pebisnis, hingga masyarakat umum yang menyuarakan hal senada.

NARASUMBER

Harmoko (Menteri Penerangan RI): Memberikan pernyataan resmi mengenai kemarahan pemerintah dan istilah “jurnalisme alkohol”.

Sudomo (Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan/Menko Polkam): Memberikan komentar mengenai kerugian nama baik Kepala Negara akibat artikel tersebut.

Steven Erlanger (Wartawan New York Times Service / Penulis artikel di IHT): Memberikan pembelaan dan penjelasan mengenai proses jurnalistik yang dilakukannya.

Seorang pengusaha warteg (Dikutip dalam tulisan Erlanger): Mengomentari tentang kemacetan dan kepemilikan jalan tol.

Seorang pejabat (Dikutip anonim dalam tulisan Erlanger): Memberikan perumpamaan tentang “Taj Mahal” dan “Tol Mahal”.

David Jenkins (Disebut sebagai perbandingan): Penulis dari Sydney Morning Herald yang artikelnya pada tahun 1986 juga pernah memicu ketegangan diplomatik RI-Australia karena membahas kekayaan keluarga Soeharto.

CATATAN

Anda bisa menghubungi juru kunci Gudang Warung Arsip via SMS/Whatsapp 0878-3913-7459 (Pesan Cepat), JIKA:

– Kesulitan masuk di situs web warungarsip.co

– Jika dokumen yang Anda cari belum ada di situs web. Sebab, karena kemampuan penyimpanan yang tidak maksimal, sebagian besar kliping tidak bisa diunggah.